Minggu, 07 Agustus 2011

Budidaya Jamur Tiram dengan Media Serbuk Kayu

Rabu, 20 Juli 2011

(bibitjamur1.blogspot.com/)

 

Untuk budidaya jamur tiram dapat menggunakan serbuk kayu (serbuk gergaji).
Kelebihan penggunaan serbuk kayu sebagai media antara lain mudah diperoleh dalam
bentuk limbah sehingga harganya relatif murah, mudah dicampur dengan bahan-bahan
lain pelengkap nutrisi, serta mudah dibentuk dan dikondisikan. Bahan-bahan untuk
budidaya jamur tiram yang perlu dipersiapkan terdiri dari bahan baku dan bahan
pelengkap.
Bahan baku (serbuk kayu/gergaji) yang digunakan sebagai tempat tumbuh jamur
mengandung karbohidrat, serat lignin, dan lain-lain. Dari kandungan kayu tersebut ada
yang berguna dan membantu pertumbuhan jamur, tetapi ada pula yang menghambat.
Kandungan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan jamur antara lain karbohidrat, lignin, dan
serat, sedangkan faktor yang menghambat antara lain adanya getah dan zat ekstraktif (zat
pengawet alami yang terdapat pada kayu). Oleh karena itu serbuk kayu yang digunakan
untuk budidaya jamur sebaiknya berasal dari jenis kayu yang tidak banyak mengandung
zat pengawet alami, tidak busuk dan tidak ditumbuhi oleh jamur atau kapang lain.
Serbuk kayu yang baik adalah serbuk yang berasal dari kayu keras dan tidak banyak
mengandung minyak ataupun getah.
Namun demikian serbuk kayu yang banyak 5 mengandung minyak maupun getah dapat pula digunakan sebagai media dengan cara  merendamnya lebih lama sebelum proses lebih lanjut
Bahan-bahan lain yang digunakan dalam budidaya jamur pada media plastik (log)
terdiri dari beberapa macam yaitu bekatul (dedak padi), kapur (CaCO3), gips (CaSO4).
Penggunaan kantong plastik (log) bertujuan untuk mempermudah pengaturan kondisi
(jumlah oksigen dan kelembaban media) dan penanganan media selama pertumbuhan.
Kantong plastik yang digunakan adalah plastik yang kuat dan tahan panas sampai
dengan suhu 100 oC, Jenis plastik biasanya dipilih dari jenis polipropilen (PP). Ukuran
dan ketebalan plastik terdiri dari berbagai macam. Beberapa ukuran plastik yang biasa
digunakan dalam budidaya jamur antara lain 20 x 30 cm, 17 x 35 cm, 14 x 25 cm dengan
ketebalan 0,3 mm – 0,7 mm atau dapat lebih tebal lagi.
Adapun bahan tambahan bekatul ditambahkan untuk meningkatkan nutrisi media
tanam sebagai sumber karbohidrat, sumber karbon (C), dan nitrogen. Bekatul yang
digunakan dapat berasal dari berbagai jenis padi, misalnya padi jenis IR, pandan wangi,
rojo lele, ataupun jenis lainnya. Bekatul sebaiknya dipilih yang masih baru, belum bau
(penguk=jawa), dan tidak rusak.
Kapur merupakan bahan yang ditambahkan sebagai sumber kalsium (Ca). Di
samping itu, kapur juga digunakan untuk mengatur pH media. Kapur yang digunakan
adalah kapur pertanian yaitu kalsium karbonat (CaCO3). Unsur kalsium dan karbon
digunakan untuk meningkatkan mineral yang dibutuhkan jamur bagi pertumbuhannya.
Gips (CaSO4) digunakan sebagai sumber kalsium dan sebagai bahan untuk
memperkokoh media. Dengan kondisi yang kokoh maka diharapkan media tidak mudah
rusak.
Bibit Jamur

Sabtu, 14 Mei 2011

Pembuatan Media Tanam Jamur Tiram Baglog

 

Pembuatan media tanam dalam baglog dimaksudkan untuk mempermudah peletakan dalam kumbung serta untuk mengatur kontinuitas produksi. Baglog dapat diartikan kantung serbuk kayu atau kantung kayu berbentuk silinder (log), oleh karena itu media tanam dimasukkan dalam kantung plastik kemudian dipadatkan sehingga menyerupai log kayu (gelondongan). Komposisi media tanam bukanlah hal yang mutlak, beberapa contoh dapat dilihat di komposisi.

Cara Pembuatan

1.   Pilih serbuk kayu yang baik, masih baru (jelas riwayat), bebas dari kotoran, sampah atau tercemar minyak oli pemotongan kayu
2.   Bersihkan serbuk kayu dari semua kotoran, apabila memungkinkan lakukan pengayakan
3.   Biarkan serbuk kayu melapuk dengan sendirinya selama satu minggu, selama penyimpanan jangan terkena air agar tidak dihinggapi cendawan lain
4.   Lakukan pencampuran media hingga merata dengan komposisi lain sesuai takaran, pemberian air jangan terlalu banyak karena misellium jamur akan sulit tumbuh pada media yang jenuh air.
5.   Masukkan media ke dalam plastik polipropilen (umumnya berukuran 17 x 35 cm atau 17 x 30 cm) kemudian padatkan secara bertahap. Media jangan terlalu penuh agar ring dapat dipasang.
6.   Sterilisasi media dalam drum (kukus) tertutup rapat (tutup plastik) agar menciptakan ruang bertekanan. Sterilisasi dilakukan selama 3-4 jam atau 1 tabung kecil gas LPG.
7.   Setelah api dari gas LPG mati, diamkan agar suhu turun hingga kurang lebih 50oC kemudian pindahkan ke ruang inokulasi.
8.   Diamkan baglog selama satu minggu untuk mengetahui tingkat kontaminasi sebelum diinokulasi bibit. Hal ini untuk seleksi media yang baik dan mengurangi resiko kerugian.
AGRO PERMATA JAMUR KULIM TENAYAN

Selasa, 12 Juli 2011

TRIK PANEN MELIMPAH (nusabudidaya.blogspot.com/)

TIPS MENDONGKRAK PANEN 1 DAN 2
Tips Mudah mendongkrak hasil panen pertama dan kedua
"Baglog merupakan media tanam yang dipersiapkan untuk kebutuhan pertumbuhan jamur tiram. Di dalamnya telah tersedia berbagai nutrisi tambahan yang tidak tersedia di lingkungan aslinya tempat jamur tumbuh liar. Terang saja karena baglog dirancang untuk memproduksi jamur tiram dengan kualitas yang baik dan diharapkan dapat tumbuh secara berlanjut. Selain bahan-bahan tambahan, baglog juga memiliki kelembapan yang berasal dari air. Air ini salah satu syarat pertumbuhan jamur tiram. Seperti pepatah bagai jamur di musim penghujan, jamur memang tumbuh subur pada kondisi udara yang lembab lagi sejuk. Dengan tidak tercukupinya air bagi pertumbuhan, jamur tiram yang dihasilkan pun akan jauh dari kualitas.
Pengkabutan kumbung dilakukan untuk menghasilkan keadaan seperti kondisi optimum pertumbuhan jamur tiram. Namun sering kali pengkabutan memiliki banyak kekurangan.
Pengkabutan dengan nozel yang terlalu besar akan berdampak pada akumulasi bintik air pada jamur tiram. Bila hal ini terjadi air akan lebih lama hilang dari jamur tiram dan mengakibatkan bercak kuning.
Keadaan ini tentu tidak menarik saat dikemas. Pengkabutan yang terlalu sering juga mengakibatkan lingkungan kumbung terlalu basah. Keadaa ini bisa memacu pertumbuhan mikroorganisme lain seperti ganggang dan bakteri pada media baglog.
Hasil jamur tiram yang didapat pun terlalu basah sehingga mudah rusak atau tidak tahan lama saat disimpan.
Masalah yang lain lagi yaitu terkadang petani sulit menentukan waktu siram. Patokannya bukan pagi dan sore tapi apabila kelembapan kumbung telah berkurang. Bagi kumbung yang memiliki pengukur kelembapan saya rasa hal ini tidak menjadi persoalan. Ada tips sederhana untuk mengatasi atau paling tidak dapat mengurangi masalah tersebut di atas. Efek lainnya yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot panen jamur tiram tanpa menjadikannya lebih lemah disimpan. Dengan cara ini hasil panen jamur tiram akan meningkat pada awal-awal panen karena kondisi baglog tidak banyak berubah.
Caranya cukup anda lubangi saja plastik pada bagian atas baglog tanpa membuka kapas penutup. Buat 2-3 lubang dan biarkan jamur tumbuh dari sana. Pada panen berikutnya buat kembali lubang di tempat berbeda dengan jumlah lubang lebih banyak. Cara ini memiliki maksud untuk mengurangi penguapan yang terjadi pada baglog sehingga air yang tersedia dimanfaatkan secara maksimal bagi pertumbuhan jamur tiram. Bila sudah demikian, otomatis bobot panen akan meningkat.
Mari kita lihat kebiasaan petani selama ini, ada yang membuka kapas, setelah panen dikorek-korek, atau membuka langsung memotong plastik bagian atas agar primordia yang keluar lebih banyak karena bidang tumbuh lebih luas. Tapi kelemahannya media mengalami penguapan yang tinggi dan cepat kering. Tentu anda dapat membandingkan penguapan yang terjadi antara baglog dengan diberi lubang kecil dengan baglog yang dibuka kapas penutupnya, terlebih-lebih yang dipotong plastik bagian atasnya … Bila anda beranggapan pengkabutan akan membuat media kembali basah, saya menyangkal anggapan ini. Sebab baglog dengan misellium yang tebal tidak mudah menyerap air. Walau anda siram sekalipun air akan sedikit sekali yang terserap dan tidak akan mengembalikan kondisi seperti sedia kala. Anda dapat amati baglog yang plastiknya semakin hari semakin keriput, seharusnya hal itu tidak terjadi bila anggapan itu benar. Nah, pada panen ketiga atau keempat dan seterusnya anda dapat membuat lubang yang lebih besar karena panen “ monster ” telah terjadi pada awal pertumbuhan. Lakukan perawatan seperti biasa … keberhasilan panen monster tidak terlepas pula dari kualitas bibit yang digunakan.
Bibit kami telah banyak digunakan secara luas di daerah Sukabumi, Bogor,Bandung, dan Lampung. Petani yang mencoba-coba menggunakan bibit lain pada akhirnya kembali lagi menggunakan bibit kami. Sifat bibit jamur tiram yang kami produksi: Ukuran besar, rumpun banyak, berwarna putih bersih dan tidak mudah pecah pingir tudungnya. Kami tunggu anda di tempat kami untuk studi banding dan berbagi informasi, bila memungkinkan dapat terjalin hubungan bisnis … Silahkan hub kami
gedzvespa

Bercocok Tanam Jamur Tiram pada Usia Pensiun
Usia pensiun tidak membatasi seseorang untuk berhenti berkarya dan mengembangkan sebuah usaha yang memiliki pangsa pasar luas. Hal itulah yang coba dijalankan Bapak Sabar Muli Manik (55) dengan memulai menjalankan usaha budidaya jamur pada Bulan Agustus 2010. Setelah mengabdikan diri pada perusahaan minyak negara selama 23 tahun, Pak Manik mengembangkan jiwa entrepreneurnya dengan menekuni usaha ternak ayam dan budidaya ikan. Namun, karena memiliki resiko usaha yang tinggi, suami dari Ibu Kuswanti (55) tersebut menjatuhkan pilihannya untuk menekuni bisnis budidaya jamur. Berlokasi di Dusun Pakemtegal RT. 38 Pakembinangun Pakem Sleman, Pak Manik memiliki sebuah kumbung jamur berukuran 7 m x 10 m yang berkapasitas 5.000 buah baglog.
Untuk kumbung miliknya, isinya saat ini didominasi jamur tiram dan beberapa jamur kuping. Media tanam (baglog) dibeli dari para pembibit yang ada di Yogyakarta seharga Rp.1.500,00-Rp.1.750,00/ baglog. “Saat ini kumbung kami isi penuh (5.000 baglog) dengan jamur tiram dan sedikit jamur kuping, hingga bisa menghasilkan 15-20 kg jamur setiap harinya,” tambah Pak Manik. Hasil dari produksi Jamur Tiram dan Jamur Kupingnya tersebut kemudian dipasarkan ke para pedagang yang ada di Pasar Pakem Sleman. “Sebenarnya ada beberapa rumah makan/ restoran yang mengajukan kerjasama dengan kita (untuk membeli jamur), namun karena kapasitas produksi yang belum mencukupi, maka kami belum menyanggupinya,” kata Ibu Kuswanti. Hal itu menjadi sebuah indikasi meskipun ‘pemain’ jamur saat ini cukup melimpah, namun peluang pasarnya masih sangat terbuka lebar.
Dapatkan Video Proses Pembuatan Baglog Jamur Tiram dan Budidayanya:
http://bisnisukm.com/video-proses-pembuatan-baglog-jamur-tiram-dan-budidayany…Dan Video Pengolahan Keripik Jamur Tiram:
http://bisnisukm.com/pengolahan-keripik-jamur-tiram.html


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar