Minggu, 07 Agustus 2011

Budidaya Jamur Tiram dengan Media Serbuk Kayu

Rabu, 20 Juli 2011

(bibitjamur1.blogspot.com/)

 

Untuk budidaya jamur tiram dapat menggunakan serbuk kayu (serbuk gergaji).
Kelebihan penggunaan serbuk kayu sebagai media antara lain mudah diperoleh dalam
bentuk limbah sehingga harganya relatif murah, mudah dicampur dengan bahan-bahan
lain pelengkap nutrisi, serta mudah dibentuk dan dikondisikan. Bahan-bahan untuk
budidaya jamur tiram yang perlu dipersiapkan terdiri dari bahan baku dan bahan
pelengkap.
Bahan baku (serbuk kayu/gergaji) yang digunakan sebagai tempat tumbuh jamur
mengandung karbohidrat, serat lignin, dan lain-lain. Dari kandungan kayu tersebut ada
yang berguna dan membantu pertumbuhan jamur, tetapi ada pula yang menghambat.
Kandungan yang dibutuhkan bagi pertumbuhan jamur antara lain karbohidrat, lignin, dan
serat, sedangkan faktor yang menghambat antara lain adanya getah dan zat ekstraktif (zat
pengawet alami yang terdapat pada kayu). Oleh karena itu serbuk kayu yang digunakan
untuk budidaya jamur sebaiknya berasal dari jenis kayu yang tidak banyak mengandung
zat pengawet alami, tidak busuk dan tidak ditumbuhi oleh jamur atau kapang lain.
Serbuk kayu yang baik adalah serbuk yang berasal dari kayu keras dan tidak banyak
mengandung minyak ataupun getah.
Namun demikian serbuk kayu yang banyak 5 mengandung minyak maupun getah dapat pula digunakan sebagai media dengan cara  merendamnya lebih lama sebelum proses lebih lanjut
Bahan-bahan lain yang digunakan dalam budidaya jamur pada media plastik (log)
terdiri dari beberapa macam yaitu bekatul (dedak padi), kapur (CaCO3), gips (CaSO4).
Penggunaan kantong plastik (log) bertujuan untuk mempermudah pengaturan kondisi
(jumlah oksigen dan kelembaban media) dan penanganan media selama pertumbuhan.
Kantong plastik yang digunakan adalah plastik yang kuat dan tahan panas sampai
dengan suhu 100 oC, Jenis plastik biasanya dipilih dari jenis polipropilen (PP). Ukuran
dan ketebalan plastik terdiri dari berbagai macam. Beberapa ukuran plastik yang biasa
digunakan dalam budidaya jamur antara lain 20 x 30 cm, 17 x 35 cm, 14 x 25 cm dengan
ketebalan 0,3 mm – 0,7 mm atau dapat lebih tebal lagi.
Adapun bahan tambahan bekatul ditambahkan untuk meningkatkan nutrisi media
tanam sebagai sumber karbohidrat, sumber karbon (C), dan nitrogen. Bekatul yang
digunakan dapat berasal dari berbagai jenis padi, misalnya padi jenis IR, pandan wangi,
rojo lele, ataupun jenis lainnya. Bekatul sebaiknya dipilih yang masih baru, belum bau
(penguk=jawa), dan tidak rusak.
Kapur merupakan bahan yang ditambahkan sebagai sumber kalsium (Ca). Di
samping itu, kapur juga digunakan untuk mengatur pH media. Kapur yang digunakan
adalah kapur pertanian yaitu kalsium karbonat (CaCO3). Unsur kalsium dan karbon
digunakan untuk meningkatkan mineral yang dibutuhkan jamur bagi pertumbuhannya.
Gips (CaSO4) digunakan sebagai sumber kalsium dan sebagai bahan untuk
memperkokoh media. Dengan kondisi yang kokoh maka diharapkan media tidak mudah
rusak.
Bibit Jamur

Sabtu, 14 Mei 2011

Pembuatan Media Tanam Jamur Tiram Baglog

 

Pembuatan media tanam dalam baglog dimaksudkan untuk mempermudah peletakan dalam kumbung serta untuk mengatur kontinuitas produksi. Baglog dapat diartikan kantung serbuk kayu atau kantung kayu berbentuk silinder (log), oleh karena itu media tanam dimasukkan dalam kantung plastik kemudian dipadatkan sehingga menyerupai log kayu (gelondongan). Komposisi media tanam bukanlah hal yang mutlak, beberapa contoh dapat dilihat di komposisi.

Cara Pembuatan

1.   Pilih serbuk kayu yang baik, masih baru (jelas riwayat), bebas dari kotoran, sampah atau tercemar minyak oli pemotongan kayu
2.   Bersihkan serbuk kayu dari semua kotoran, apabila memungkinkan lakukan pengayakan
3.   Biarkan serbuk kayu melapuk dengan sendirinya selama satu minggu, selama penyimpanan jangan terkena air agar tidak dihinggapi cendawan lain
4.   Lakukan pencampuran media hingga merata dengan komposisi lain sesuai takaran, pemberian air jangan terlalu banyak karena misellium jamur akan sulit tumbuh pada media yang jenuh air.
5.   Masukkan media ke dalam plastik polipropilen (umumnya berukuran 17 x 35 cm atau 17 x 30 cm) kemudian padatkan secara bertahap. Media jangan terlalu penuh agar ring dapat dipasang.
6.   Sterilisasi media dalam drum (kukus) tertutup rapat (tutup plastik) agar menciptakan ruang bertekanan. Sterilisasi dilakukan selama 3-4 jam atau 1 tabung kecil gas LPG.
7.   Setelah api dari gas LPG mati, diamkan agar suhu turun hingga kurang lebih 50oC kemudian pindahkan ke ruang inokulasi.
8.   Diamkan baglog selama satu minggu untuk mengetahui tingkat kontaminasi sebelum diinokulasi bibit. Hal ini untuk seleksi media yang baik dan mengurangi resiko kerugian.
AGRO PERMATA JAMUR KULIM TENAYAN

Selasa, 12 Juli 2011

TRIK PANEN MELIMPAH (nusabudidaya.blogspot.com/)

TIPS MENDONGKRAK PANEN 1 DAN 2
Tips Mudah mendongkrak hasil panen pertama dan kedua
"Baglog merupakan media tanam yang dipersiapkan untuk kebutuhan pertumbuhan jamur tiram. Di dalamnya telah tersedia berbagai nutrisi tambahan yang tidak tersedia di lingkungan aslinya tempat jamur tumbuh liar. Terang saja karena baglog dirancang untuk memproduksi jamur tiram dengan kualitas yang baik dan diharapkan dapat tumbuh secara berlanjut. Selain bahan-bahan tambahan, baglog juga memiliki kelembapan yang berasal dari air. Air ini salah satu syarat pertumbuhan jamur tiram. Seperti pepatah bagai jamur di musim penghujan, jamur memang tumbuh subur pada kondisi udara yang lembab lagi sejuk. Dengan tidak tercukupinya air bagi pertumbuhan, jamur tiram yang dihasilkan pun akan jauh dari kualitas.
Pengkabutan kumbung dilakukan untuk menghasilkan keadaan seperti kondisi optimum pertumbuhan jamur tiram. Namun sering kali pengkabutan memiliki banyak kekurangan.
Pengkabutan dengan nozel yang terlalu besar akan berdampak pada akumulasi bintik air pada jamur tiram. Bila hal ini terjadi air akan lebih lama hilang dari jamur tiram dan mengakibatkan bercak kuning.
Keadaan ini tentu tidak menarik saat dikemas. Pengkabutan yang terlalu sering juga mengakibatkan lingkungan kumbung terlalu basah. Keadaa ini bisa memacu pertumbuhan mikroorganisme lain seperti ganggang dan bakteri pada media baglog.
Hasil jamur tiram yang didapat pun terlalu basah sehingga mudah rusak atau tidak tahan lama saat disimpan.
Masalah yang lain lagi yaitu terkadang petani sulit menentukan waktu siram. Patokannya bukan pagi dan sore tapi apabila kelembapan kumbung telah berkurang. Bagi kumbung yang memiliki pengukur kelembapan saya rasa hal ini tidak menjadi persoalan. Ada tips sederhana untuk mengatasi atau paling tidak dapat mengurangi masalah tersebut di atas. Efek lainnya yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot panen jamur tiram tanpa menjadikannya lebih lemah disimpan. Dengan cara ini hasil panen jamur tiram akan meningkat pada awal-awal panen karena kondisi baglog tidak banyak berubah.
Caranya cukup anda lubangi saja plastik pada bagian atas baglog tanpa membuka kapas penutup. Buat 2-3 lubang dan biarkan jamur tumbuh dari sana. Pada panen berikutnya buat kembali lubang di tempat berbeda dengan jumlah lubang lebih banyak. Cara ini memiliki maksud untuk mengurangi penguapan yang terjadi pada baglog sehingga air yang tersedia dimanfaatkan secara maksimal bagi pertumbuhan jamur tiram. Bila sudah demikian, otomatis bobot panen akan meningkat.
Mari kita lihat kebiasaan petani selama ini, ada yang membuka kapas, setelah panen dikorek-korek, atau membuka langsung memotong plastik bagian atas agar primordia yang keluar lebih banyak karena bidang tumbuh lebih luas. Tapi kelemahannya media mengalami penguapan yang tinggi dan cepat kering. Tentu anda dapat membandingkan penguapan yang terjadi antara baglog dengan diberi lubang kecil dengan baglog yang dibuka kapas penutupnya, terlebih-lebih yang dipotong plastik bagian atasnya … Bila anda beranggapan pengkabutan akan membuat media kembali basah, saya menyangkal anggapan ini. Sebab baglog dengan misellium yang tebal tidak mudah menyerap air. Walau anda siram sekalipun air akan sedikit sekali yang terserap dan tidak akan mengembalikan kondisi seperti sedia kala. Anda dapat amati baglog yang plastiknya semakin hari semakin keriput, seharusnya hal itu tidak terjadi bila anggapan itu benar. Nah, pada panen ketiga atau keempat dan seterusnya anda dapat membuat lubang yang lebih besar karena panen “ monster ” telah terjadi pada awal pertumbuhan. Lakukan perawatan seperti biasa … keberhasilan panen monster tidak terlepas pula dari kualitas bibit yang digunakan.
Bibit kami telah banyak digunakan secara luas di daerah Sukabumi, Bogor,Bandung, dan Lampung. Petani yang mencoba-coba menggunakan bibit lain pada akhirnya kembali lagi menggunakan bibit kami. Sifat bibit jamur tiram yang kami produksi: Ukuran besar, rumpun banyak, berwarna putih bersih dan tidak mudah pecah pingir tudungnya. Kami tunggu anda di tempat kami untuk studi banding dan berbagi informasi, bila memungkinkan dapat terjalin hubungan bisnis … Silahkan hub kami
gedzvespa

Bercocok Tanam Jamur Tiram pada Usia Pensiun
Usia pensiun tidak membatasi seseorang untuk berhenti berkarya dan mengembangkan sebuah usaha yang memiliki pangsa pasar luas. Hal itulah yang coba dijalankan Bapak Sabar Muli Manik (55) dengan memulai menjalankan usaha budidaya jamur pada Bulan Agustus 2010. Setelah mengabdikan diri pada perusahaan minyak negara selama 23 tahun, Pak Manik mengembangkan jiwa entrepreneurnya dengan menekuni usaha ternak ayam dan budidaya ikan. Namun, karena memiliki resiko usaha yang tinggi, suami dari Ibu Kuswanti (55) tersebut menjatuhkan pilihannya untuk menekuni bisnis budidaya jamur. Berlokasi di Dusun Pakemtegal RT. 38 Pakembinangun Pakem Sleman, Pak Manik memiliki sebuah kumbung jamur berukuran 7 m x 10 m yang berkapasitas 5.000 buah baglog.
Untuk kumbung miliknya, isinya saat ini didominasi jamur tiram dan beberapa jamur kuping. Media tanam (baglog) dibeli dari para pembibit yang ada di Yogyakarta seharga Rp.1.500,00-Rp.1.750,00/ baglog. “Saat ini kumbung kami isi penuh (5.000 baglog) dengan jamur tiram dan sedikit jamur kuping, hingga bisa menghasilkan 15-20 kg jamur setiap harinya,” tambah Pak Manik. Hasil dari produksi Jamur Tiram dan Jamur Kupingnya tersebut kemudian dipasarkan ke para pedagang yang ada di Pasar Pakem Sleman. “Sebenarnya ada beberapa rumah makan/ restoran yang mengajukan kerjasama dengan kita (untuk membeli jamur), namun karena kapasitas produksi yang belum mencukupi, maka kami belum menyanggupinya,” kata Ibu Kuswanti. Hal itu menjadi sebuah indikasi meskipun ‘pemain’ jamur saat ini cukup melimpah, namun peluang pasarnya masih sangat terbuka lebar.
Dapatkan Video Proses Pembuatan Baglog Jamur Tiram dan Budidayanya:
http://bisnisukm.com/video-proses-pembuatan-baglog-jamur-tiram-dan-budidayany…Dan Video Pengolahan Keripik Jamur Tiram:
http://bisnisukm.com/pengolahan-keripik-jamur-tiram.html


BUDI DAYA JAMUR TIRAM PUTIH I

I. PENDAHULUAN

Jamur terdiri dari bermacam-macam jenis, dan ada yang kehidupan merugikan patogen hewan jamur ada yang merugikan menguntungkan bagi manusia. yaitu penyakit yang Jamur dapat pada antara lain karena yang bersifat menyebabkan manusia,
Diantara maupun tumbuhan. menguntungkan manusia misalnya : penicillium yang menghasilkan antibiotik penisilin, jamur-jamur yang berperan dalam proses fermentasi makanan seperti kecap, tempe, tape, tauco dan lain-lain. Bahkan banyak jenis jamur yang dapat dikonsumsi (dimakan) antara lain jamur kuping, jamur tiram, jamur shiitake, jamur agaricus (campignon) dan jamur merang.
Dewasa ini budidaya jamur (Mushrooming the mushroom) yang dapat dimakan telah banyak dilakukan orang yaitu dengan menggunakan limbah pertanian sebagai media tumbuhnya. Budidaya jamur yang dapat dimakan (edible mushroom) merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan pangan dan gizi serta menganekaragamkan pola komsumsi pangan rakyat.
Dari analisa menunjukkan bahwa kandungan mineral jamur lebih tinggi daripada gading sapi dan domba, bahkan hampir dua kali lipat jumlah garam mineral dalam sayuran. Jumlah proteinnya dua kali lipat protein asparagus, kol, kentang dan empat kali lipat daripada tomat dan wortel serta enam kali lipat dari jeruk.
Selain itu jamur juga mengandung zat besi, tembaga, kalium dan kapur, kaya vitamin B dan D, sejumlah enzim tripsin yang berperan sangat penting pada proses pencernaan, kalor dan kolesterolnya rendah.

Beberapa keuntungan budidaya jamur yaitu :

1.   Melalui pemanfaatan bahan-bahan limbah di sekitar kita akan menjadikan lingkungan kita bersih, indah dan sehat.
2.   Budidaya jamur dapat diusahakan tanpa menggunakan lahan yang luas
3.   Produk Jamur dapat dimanfaatkan untuk menambah gizi atau menu serta dapat menambah pendapatan keluarga.
4.   Kompos bekas media tanam dapat langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan dan untuk memelihara cacing.

II. BUDI DAYA JAMUR TIRAM PUTIH
Jamur tiram putih merupakan salah satu jamur kayu yang sekarang telah banyak dibudidayakan orang. Media tanam atau substratnya yang sudah umum digunakan adalah gergajian kayu alba (sengon), tetapi sembarang gergajian kayu sebetulnya dapat digunakan, tentunya kayu yang tidak beracun, kemudian di campur dengan bahan-bahan yang lain dengan berbandingan tertentu.





Adapun proses budidaya jamur tiram putih adalah sebagai berikut :

A. Bahan dan Alat
1.   Bahan. Bahan media tanam untuk jamur tiram putih adalah gergajian kayu (serbuk) dicampur dengan bahan-bahan di  bawah ini dengan perbandingan sebagai berikut :
a) Serbuk Gergaji
b) Bekatul atau dedak halus
c) Kalsium carbonat/ kapur (CaCO3)
d) Pupuk TSP
e) Gips (CaSO4)
f) Bibit
g) Air 100 0,5 0,5 0,5 25 kg kg kg kg kantong 10-15 kg secukupnya.
Disamping itu perlu disiapkan bahan-bahan yaitu :
a) kantong plastik tahan panas (ukuran 03 atau 04, 15 x 25 cm atau 17 x 30 cm), b) karet pengikat,
c) potongan kertas koran,
d) potongan pipa pralon (diameter 1” dan lebar 1 cm).
2.   Alat.
Alat pencampur seperti :
a) sekop dan
b) cangkul.
Alat sterilisasi berupa :
a) drum perebus dengan tutup dan
b) sarangan,
c) sumber panas (kompor minyak / briket batu bara)

B.   Proses pengomposan. Sebelum ditanam bibit, bahan-bahan media tanam tersebut di komposkan terlebih dahulu selama 15 hari dengan tahapan sebagai berikut :
1.   Serbuk gergaji yang telah benar-benar kering direndam dengan air bersih di dalam suatu wadah selama 1 malam.
2.   Tiriskan (sampai dikepal tidak pecah), selanjutnya tambahkan kapur beserta bekatul dan diaduk sampai rata. Biarkan dalam tumpukan selama 5 hari.
(Serbuk gergaji, tambahkan
5-15 % bekatul atau polar (bergantung pada spesies/strain yang digunakan),
2% kapur (CaCO3),
2% gypsum (CaSO4) dan
air bersih, diaduk merata, kadar air substrat 65%, pH 7).
3.   Tumpukan diaduk kembali dengan ditambahkan pupuk TSP dan biarkan selama 5 hari.
4.   Bahan diaduk kembali dan tambahkan gips. Biarkan lagi tumpukan itu sampai 5 hari, maka proses pengomposan telah selesai.

C. Proses Pembungkusan. Bahan-bahan media tanam yang telah dikomposkan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Kantong plastik pada kedua ujung pangkalnya ditekuk ke dalam, sehingga setelah diisi dan dipadatkan kantong plastik dapat berdiri seperti botol. Kantong plastik diisi kurang lebih ¾ bagian, kemudian yang ¼ bagiannya ditekuk ke dalam.Untuk meletakkan kantong plastik yang telah diisi (polibek) pada posisi terbalik yaitu bagian yang ditekuk/ dilipat ke dalam ditempatkan di bawah.

D. Proses Sterilisari. Siapkan alat drum perebus beserta perlengkapannya. Sarangan diletakkan kira-kira 1/3 bagian drum dari bawah. Isilah drum dengan air bersih kira-kira ¼ bagian drum. Sumber panas dinyalakan, sambil media tanam dimasukkan ke dalam platik besar tahan panas yang menjulur ke atas drum. Proses sterilisasi dengan uap ini dilakukan selama 6 – 8 jam pada suhu 90 – 95 C.

E.   Teknik Penanaman Bibit (Inokulasi). Setelah proses sterilisasi selesai, polibek dari drum diambil keluar dan dibiarkan dingin. Bila telah dingin, proses inokulasi dapat dilakukan yaitu dengan cara memasukkan bibit dibagian atas, usahakan merata dibagian atas permukaan media dalam polibek. Untuk mengikatkan plastik agar kuat, ujung polibek dimasukan potongan pralon (cincin), kemudian ditutup dengan potongan kertas koran dan diikat dengan karet gelang. Saat inokulasi sebaiknya jangan sampai melebihi dari 24 jam setelah proses sterilisasi.
F.   Pemeliharaan dan Inkubasi .Polibek yang telah di inokulasi ditempatkan pada rak-rak yang telah disediakan. Rak-rak ini sebaiknya ditempatkan dalam suatu ruangan agar suhu dan kelembabannya tidak terpengaruh oleh udara luar. Suhu dan kelembabannya diusahakan stabil sesuai dengan kondisi yang diinginkan bagi pertumbuhan jamur yaitu 24 – 28 C dan kelembaban udara 80 – 90 %. Polibek tersebut dibiarkan selama 6 – 8 minggu sampai miselium tumbuh memenuhi kantong palstik sehingga warnanya putih padat.

G. Pembukaan Polibek. Setelah polibek berwarna putih kompak (umur 6 – 8 minggu), maka polibek dapat dibuka dengan melepas karet dan cincin pralon. Kemudian plastik yang terbuka disibakkan keluar agar permukaan media tumbuh jamur mendapatkan udara sebanyak-banyaknya.

H. Pemanenan Jamur
Setelah 1 minggu dari pembukaan, jamur biasanya akan terbentuk tubuh / rumpun jamur dan sudah ada yang siap dipanen. Umur jamur dari ”singit”/ bakal jamur sampai panen sekitar 3 hari.
1.   Perawatan Media Polibek. Setiap polibek yang telah ditumbuhi miselium dapat tumbuh jamur berkali-kali, sampai 4 – 6 kali panen. Pemanenan ini dapat berlangsung selama 2 – 3 bulan dengan hasil total 75% dari berat serbuk gergaji kering untuk substratnya. Agar media tumbuh jamur berkali-kali maka perlu pemeliharaan. Adapun pemeliharaannya adalah sebagai berikut :
a.   Media polibek yang telah tumbuh jamur sekali, permukaan bekas tumbuh jamur dikeruk atau dipotong 0,5 – 1 cm. Kemudian disuntikkan ke dalamnya larutan vitamin B kompleks sekitar 30 cc (2 butir Vit. B komplek dilarutkan dalam 1,5 liter air bersih).
b.   Setiap pagi dan sore permukaan media polibek disemprot dengan air bersih, Jangan sampai terlihat kering permukaannya.
c.   Untuk media polibek yang telah tumbuh jamur kedua, ketiga dan seterusnya diperlakukan sama dengan point 1 dan 2, hanya vitamin B kompleks yang disuntikkan semakin berkurangnya media yang dipotong / dibuang.

J.       Pemberatantasan Penyakit. Apabila proses sterilisasi berjalan dengan sempurna dan peralatan yang dipakai bersih dan steril, maka tidak ada kontaminasi pada subsratnya. Apabila ada polibek terkontaminasi / terkena penyakit, sebaiknya polibek tersebut dibuang saja agar tidak menular dan menyebabkan turunnya produksi.
Catatan :
1.   Peralatan yang dipakai pada saat penanaman bibit (inokulasi) harus bersih dan steril. Peralatan agar steril, dipanaskan / dicelup dengan air mendidih kemudian diolesi dengan alkohol 70 %. Sterilisasi saja jumlah vitamin B sebanding dengan berkurang peralatan harus dijaga selama inokulasi agar media polibek tidak terkontaminasi.
2. .Penamanan bibit jamur diusahakan ditempat tertutup dan steril. Pada saat mencampur bahan-bahan media tanam sebaiknya memakai masker agar uap hasil reaksi bahan-bahan tersebut tidak terhirup masuk ke dalam paru-paru.

III. PENUTUP
Budidaya jamur tiram putih tidaklah sulit dan tidak diperlukan keahlian khusus. Modal usahanyapun tidaklah besar. Agrobisnis di masa sekarang dan akan datang sangatlah prospektus. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Klaten, Agustus 1999 Ditulis dan dipraktekkan A. Sritopo, S.Pd.

SYARAT TUMBUH JAMUR TIRAM

Jumat, 11 Juli 2008

 

Tempat tumbuh Jamur tiram termasuk dalam jenis jamur kayu yang dapat tumbuh baik pada kayu lapuk dan mengambil bahan organic yang ada di dalamnya. Untuk membudidayakan jamur jenis ini dapat menggunakan kayu atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Serbuk kayu yang baik untuk dibuat sebagai bahan media tanam adalah dari jenis kayu yang keras sebab kayu yang keras banyak mengandung selulosa yang merupakan bahan yang diperlukan oleh jamur dalam jumlah banyak disamping itu kayu yang keras membuat media tanaman tidak cepat habis. Kayu atau serbuk kayu yang berasal dari kayu berdaun lebar komposisi bahan kimianya lebih baik dibandingkan dengan kayu berdaun sempit atau berdaun jarum dan yang tidak mengandung getah, sebab getah pada tanaman dapat menjadi zat ekstraktif yang menghambat pertumbuhan misellium. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan serbuk kayu sebagai bahan baku media tanam adalah dalam hal kebersihan dan kekeringan, selain itu serbuk kayu yang digunakan tidak busuk dan tidak ditumbuhi jamur jenis lain.

Untuk meningkatkan produksi jamur tiram, maka dalam campuran bahan media tumbuh selain serbuk gergaji sebagai bahan utama, perlu bahan tambahan berupa bekatul dan tepung jagung. Dalam hal ini harus dipilih bekatul dan tepung jagung yang mutunya baik, masih baru sebab jika sudah lama disimpan kemungkinan telah menggumpal atau telah mengalami fermentasi serta tidak tercampur dengan bahan-bahan lain yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur. Kegunaan penambahan bekatul dan tepung jagung merupakan sumber karbohidrat, lemak dan protein. Disamping itu perlu ditambahkan bahan-bahan lain seperti kapur ( Calsium carbonat ) sebagai sumber mineral dan pengatur pH meter

Media yang terbuat dari campuran bahan-bahan tersebut perlu diatur kadar airnya. Kadar air diatur 60 - 65 % dengan menambah air bersih agar misellia jamur dapat tumbuh dan menyerap makanan dari media tanam dengan baik Penambahan air yang tidak bersih dapat menyebabkan media terkontaminasi dengan mikroorganisme

Tingkat keasaman ( pH)
Tingkat keasaman media sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur tiram. Apabila pH terlalu rendah atau terlalu tinggi maka pertumbuhan jamur akan terhambat. bahkan mungkin akan tumbuh jamur lain yang akan mergganggu pertumbuhan jamur tiram itu sendiri. Keasaman pH media perlu diatur antara pH 6 - 7 dengan menggunakan kapur (Calsium carbonat)

Suhu udara
Pada budidaya jamur tiran suhu udara memegang peranan yang penting untuk mendapatkan pertumbuhan badan buah yang optimal. Pada umumnya suhu yang optimal untuk pertumbuhan jamur tiram, dibedakan dalam dua fase yaitu fase inkubasi yang memerlukan suhu udara berkisar antara 22 - 28 OC dengan kelembaban 60 - 70 % dan fase pembentukan tubuh buah memerlukan suhu udara antara 16 - 22 OC.
Cahaya
Pertumbuhan misellium akan tumbuh dengan cepat dalam, keadaan gelap/tanpa sinar, Sebaiknya selama masa pertumbuhan misellium ditempatkan dalam ruangan yang gelap, tetapi pada masa pertumbuhan badan buah memerlukan adanya rangsangan sinar. Pada tempat yang sama sekali tidak ada cahaya badan buch tidak dapat tumbuh, oleh karena itu pada masa terbentuknya badan buah pada permukaan media harus mulai mendapat sinar dengan intensitas penyinaran ? 60 - 70 %
Sukimin SE

1 komentar:

Irfan Tamwifi mengatakan...
Terima kasih Infonya. Baru kali ini saya tahu teorinya dan mengalami sendiri.
Kurang dari 1 minggu miselium sudah merata. Tadinya saya pikir karena tempat kami cocok, sehingga tak perlu semprot air. Meski miselium cepat merata jamur tidak tumbuh. Jamur baru 1,5 bulan setelah tanpa sengaja saya buat jendela. Ternyata karena ruangan terlalu gelap.

CARA PRAKTIS BUDI DAYA JAMUR TIRAM

Jumat, 11 Juli 2008

Ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahapan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahapan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan.

Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik.
Langkah kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci.
Langkah ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7.
Langkah keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil.
Langkah kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C.
Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit).
Langkah ketujuh, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C.
Langkah kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras.
Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata.
Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.

Tahap selanjutnya adalah memproduksi jamur tiram (Pleurotus spp). Dalam tahapan ini juga ada 10 langkah.

Pertama, siapkan serbuk kayu gergajian albasia. Rendam selama 0-12 jam (bergantung pada spesies/strain serbuk kayu yang digunakan).
Langkah kedua, tiriskan sampai tidak ada air, pada hari itu juga dengan mengunakan saringan kawat atau ayakan kawat.
Langkah ketiga, membuat subtrat/media tumbuh, pada hari itu juga. Tambahkan 5-15 % bekatul atau polar (bergantung pada spesies/strain yang digunakan), 2% kapur (CaCO3), 2% gypsum (CaSO4) dan air bersih, diaduk merata, kadar air substrat 65%, pH 7.
Langkah keempat, distribusikan ke dalam baglog polipropilen pada hari itu juga. Padatkan dalam wadah tersebut, beri lubang bagian tengah, dipasang mulut cincin pralon, kemudian ditutup dengan kapas/kertas minyak.
Langkah kelima, sterilisasi/pasteurisasi, satu hari kemudian. Simpan dalam kamar uap atau kukus dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95-120 derajat C selama 1-3 kali 8 jam bergantung pada jumlah substrat yang akan di pasteurisasi.
Langkah keenam, inokulasi substrat dengan spawn di ruang inokulasi. Setelah suhu baglog substrat turun sampai suhu kamar, inokulasikan bibit pada substrat dalam laminar flow. Bibit 10-15gr/kg substrat.
Langkah ketujuh, inkubasi baglog substrat (pertumbuhan miselium 15-30 hari). Rumah jamur/kubung/ruang inkubasi dijaga tetap kering dan bersih, suhu 22-28 derajat C tanpa cahaya.
Langkah kedelapan, baglog substrat dibuka cincin dibuka (7-15 hari kemudian). Cara membuka berbeda-beda, tergantung jenis jamur kayu yang digunakan.
Langkah kesembilan, baglog disusun di rak dalam rumah jamur (pertumbuhan jamur 10-15 hari kemudian, tumbuh pin head/bakal tumbuh buah). Bakal tumbuh buah tersebut disiram air bersih agar jamur tumbuh. Untuk jamur tiram, yang disiram rumah jamurnya. Untuk jamur kuping penyiraman langsung pada substrat sampai basah kuyup. Suhu rumah jamur 16-22 derajat C RH : 80-90 %.
Langkah terakhir panen jamur tiram/kuping. Panen kurang dari 9 kali dalam waktu kurang dari 1,5 bulan tergantung cara pemeliharaan/penyiraman jamur dan kebersihan kubung. Atau sisa panen 2-5 kali seminggu. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit unggul, teknlogi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), teknologi produksi media tumbuh/substrat dan pemeliharaan serta cara panen jamur tiram.

Sukimin SE

Cara Mudah Merawat Jamur Tiram

by: Ariek Prasetyo on: 14/01/2011
Tips cara mudah merawat jamur tiram putih dengan hasil yang memuaskan, untuk menjaga kualitas hasil panen jamur tiram putih, perawatan terhadap baglog jamur haruslah optimal.
Untuk itu perlu terus dipantau dan dijaga kelembaban udara kumbung berkisar antara 90 – 95% dengan cara melakukan penyiraman dan pengabutan air secara teratur.
Penyiraman biasanya dilakukan pada pagi hari dan sore menjelang malam untuk menurunkan suhu sekaligus merupakan proses raising bagi baglog jamur yang belum tumbuh jamur.
Apabila telah muncul jamurnya, maka penyemprotan air dilakukan pada lantai dan kumbung, tidak mengenai tubuh buah.
Info Kontak : 085735344972/081252632901
Konsultasi Masalah Jamur Tiram Putih
Wilayah Kalimantan Timur dan Sekitarnya

1. Menyiapkan lahan yang ada dan membangun kumbung

Rencana skala bisnis jamur tiram yang ada berkaitan dengan luasan lahan yang kita miliki. Kami memiliki sebuah rumusan untuk menentukan luas kumbung efektif yaitu : luas efektif kumbung adalah jumlah baglog per m2 = 70 angka 70 baglog/m2 ini adalah jumlah efektif baglog per luasan sehingga didapatkan sirkulasi udara yang cukup bagi jamur untuk tumbuh secara optimal. Ini hasil pengalaman dan pengamatan selama 3 tahun pada 4 kumbung yang berbeda Jika diterapkan sebagai berikut : berbisnis 1000 baglog memerlukan luas = 1000/70 = 14,3 m2 berbisnis 2000 baglog memerlukan luas = 2000/70 = 28,6 m2 berbisnis 3000 baglog memerlukan luas = 3000/70 = 43 m2 berbisnis 4000 baglog memerlukan luas = 4000/70 = 57 m2 berbisnis 5000 baglog memerlukan luas = 5000/70 = 71 m2 Bagaimana pengaturannya..? 1000 baglog di lahan 14,3 m2 kira-kira 3×5 m2 utk panen kira2: 3 – 5kg/hari 2000 baglog di lahan 28,6 m2 kira-kira 4×7 m2 utk panen kira2: 6 – 10kg/hari 3000 baglog di lahan 43 m2 kira-kira 5×9 m2 utk panen kira2: 9 – 15kg/hari 4000 baglog di lahan 57 m2 kira-kira 6×10 m2 utk panen kira2: 12 – 20kg/hari 5000 baglog di lahan 71 m2 kira-kira 6×12 m2 utk panen kira2: 15 – 25kg/hari dan seterusnya bisa di desain dan diukur sendiri sesuai dengan lahan yang dimiliki.
 
 
SebelumnyaToggle PlaybackBerikutnya
Catatan : hasil panen tersebut adalah hasil optimal di 70 hari awal. Jika bisnis ini kita jalankan hanya untuk selingan dan tambahan saja, maka hingga sejumlah 3000 baglog perawatan dan panen masih sanggup untuk dilakukan sendiri. InsyaALLAH perawatan per hari hanya memakan waktu hingga 3 jam saja. Itu sudah maksimal banget.. jika panen hanya 5kg an, malah mungkin hanya makan waktu setengah jam.. Untuk itu kita tidak perlu membayar orang untuk melakukan perawatan. Sehingga semua hasil keuntungan bisa diterima. Proyeksinya sebagai berikut : Jika kita merawat 3000 baglog Modal (hingga tertata dan dibuang) Rp.2100/baglog x 3000 = Rp.6.300.000,- Target hasil panen = 0,4×3000 = 1200kg (selama 4 bulan) Hasil total dengan harga jual Rp.7000/kg = Rp.8.400.000,- Jadi keuntungan yang diterima adalah = Rp.2.100.000,- Keuntungan bisa bertambah jika harga jual bisa 8000/kg atau malah 10.000/kg

Budidaya Jamur Tiram

Apa sih Jamur Tiram ?? mungkin kata-kata itu yang terlintas dipikiran Anda pertama kali membuka website ini. Alhamdulillah Anda saat ini tepat berada di website Perusahaan resmi agribisnis kami dan kami akan berbagi untuk Anda tentang budidaya jamur tiram, manfaat dan peluang usaha serta investasinya.
Dengan segala kerendahan hati, kami mengajak anda untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam hubungan kerjasama budidaya Jamur Tiram.

Jenis-jenis Jamur Tiram yang Banyak Dibudidayakan

Layanan investasi jamur budidaya kami ditujukan untuk menjawab persoalan bagi pemula yang ingin memulai budidaya jamur sekaligus belajar. Program investasi agribisnis ini sangat cocok bagi anda yang sudah mendekati pensiun sebagai karyawan, anda yang ingin memiliki diversifikasi usaha, atau anda  yang memiliki modal usaha terbatas.


Hari genee…..bingung ga punya usaha !?

Sebagian orang bingung saat ini dengan semakin ketatnya persaingan usaha atau kerja, sehingga semakin sempitnya peluang usaha atau pekerjaan. Padahal bila saja jeli melihat peluang…Dengan hanya bermodal seadanya dan ketekunan Peluang itu dapat diraih dan menghasilkan bahkan sangat menjanjikan, Anda masih bingung ??Silahkankan Anda baca dulu Artikel ini.

Tips & Trik dalam membudidayakan Jamur Tiram

Belum banyak yang tahu, ternyata jamur tiram adalah bisnis yang sangat menjanjikan. Kabarnya, jamur tiram akan dijadikan tanaman pangan masa depan.…

PELATIHAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

 

 

 

Budidaya Jamur Tiram Bermodal 900 Ribu

Takari Bambang Israwan dan kawan-kawan kini memetik sukses. Bermodal patungan dengan teman-temannya yang hanya membutuhkan modal sebesar Rp 900 ribu, kini usaha pembuatan bag log jamur tiram milik Takari Bambang Israwan dan saudaranya meningkat pesat. Dalam sebulan, omzetnya bisa mencapai Rp 15 juta.
Takari Bambang Israwan dan Agus Mulyadi, warga Dusun Mojorejo RT 11/ RW 03 Desa Pendem Kecamatan Junrejo ini benar-benar memulai bisnis pembuatan bag log dari nol.
Hanya sekali mengikuti pelatihan singkat tentang pertanian jamur tiram, Takari langsung menerapkan hasil pelatihannya pada September 2007 silam.
Hasil pelatihan itu langsung diterapkan bersama rekan-rekan satu dusunnya. Bersama 8 orang kawannya, Takari membeli bibit jamur tiram di seorang pengusaha bibit jamur di Pandaan dengan modal awal hanya sebesar Rp 900 ribu.
Dari modal awal tersebut, didapatkan bibit jamur sebanyak 800 bag log, yang didapat dari salah seorang fasilitator pelatihan yang pernah diikuti oleh Takari. Bibit ini kemudian ditempatkan di sebuah kamar berukuran 3×4 meter yang berada di belakang rumah. Bibit ini tumbuh dan berkembang dan selama 3 bulan bisa dipanen sebanyak 4 kali. Bibit jamur ini kemudian dikembangkan untuk disimpan dalam bag log.
”Saat awal panen, kami bahkan dikunjungi oleh Bob Sadino pengusaha dari Jakarta. Saat itu Bob berkata pada saya, jangan pernah berharap bisa berkembang bila hanya mengandalkan bibit itu saja. Kata-kata dari Bob Sadino inilah yang melecut saya untuk mengembangkan bisnis ini,” urai Takari.
Dari bibit jamur setelah dipanen ini, kemudian dijadikan untuk pembuatan bag log yang berisi bibit jamur. Selain itu, kelompok usaha ini juga mengambil keputusan untuk tidak menjual bibit jamur, melainkan menjual bag log diambil oleh Takari.
”Mereka yang membeli bibit ke saya, bisa menjual jamur tiram hasil panennya kepada saya bila tidak mampu memasarkan,” jelasnya.
Para pembeli yang datang ke kelompok usaha Takari dan kawan-kawan ini cukup banyak.  Selain masyarakat sekitar Batu dan Malang Raya, ada juga luar kota lainnya yang datang.
Pada pertengahan 2008, kelompok ini mampu mempekerjakan sebanyak 11 orang warga sekitar untuk proses pembuatan bag log ini. Dalam perkembangannya, 9 orang kelompok ini hanya bertahan 2 orang saja.
Yakni Takari dan Agus Mulyadi yang masih paman dari Takari sendiri. Dua orang ini kemudian membesarkan usaha pembuatan home industry bag log jamur tiram ini. Untuk bahan dasar, yakni serbuk gergaji didapatkan dari wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang.
Sumber:  Surabayapost

ingin sukses panen..???pakai bibit berkwalitas….

Bagi pelaku usaha jamur, terjadinya kegagalan dalam pembuatan media (baglog) seperti adanya kontaminasi, bibit tidak tumbuh/mati, miselia tidak sempurna adalah pemandangan yang biasa dialami. Namun hal itu akan mengganggu stabilitas usaha, jika kegagalan tersebut terjadi terus menerus dan dalam jumlah yang besar. Kisaran 5 – 20% adalah tingkat kegagalan yang dianggap wajar. Maka apabila terjadi kegagalan diatas 20%, lebih-lebih hal ini sering dialami, itu pertanda hari-hari terakhir usaha jamur akan segera tiba.
BIBIT F2
Hal yang memegang peranan sangat penting dalam keberhasilan pembuatan media jamur (baglog)adalah kwalitas bibit yang ditanam. Jika yang digunakan bibit kwalitas rendah, biasanya pertumbuhannya sangat lambat dan lemah. Lambat dari sisi waktu yang dibutuhkan akan lebih lama, lemah dari sisi kemampuan mengalahkan jamur-jamur liar yang juga ikut tumbuh (kontaminan). Sehingga sudah dapat dipastikan kegagalan akan selalu terjadi.
Berbeda jika kita menggunakan bibit dengan kwalitas sempurna, dari sisi pertumbuhan dia akan lebih cepat sehingga tidak ada kesempatan bagi spora jamur lain untuk tumbuh bahkan jika sempat tumbuh akan dibabat habis oleh mesel jamur yang kita tanam. Dengan demikian penyebab kegagalan seperti terjadinya kontaminasi, bibit yang tidak tumbuh dan lainnya tidak akan terjadi. Maka proses pembuatan baglog pun akan berjalan sempurna dan sukses hingga dipelihara.Selain itu bibit unggul yang berkwalitas juga berpengaruh pada hasil panen. Jangan heran jika Anda memelihara baglog yang bukan buatan Anda sendiri (Anda membeli ke orang lain), kemudian setelah 2-3 kali panen sudah tidak produktive lagi, besar kemungkinan bibit yang ditanam adalah bibit kwalitas rendah. Karena jika bibit yang digunakan bibit dengan kwalitas unggul, hasil panen akan stabil hingga usia baglog empat bulan bahkan lebih. dengan ritme paling lama dua minggu sekali baglog akan terus menghasilkan panen dengan bobot rata-rata 1 ons per sekali panen.Oleh sebab itu penggunaan bibit berkwalitas mutlak harus dilakukan jika Anda ingin menghasilkan media tumbuh jamur (baglog) yang produktive sekaligus menekan kegagalan dalam proses pembuatan media.

 

Urutan Pembibitan Jamur Budidaya

Penggunaan istilah terkadang membingungkan orang dalam berkomunikasi, tidak terkecuali dengan istilah pada pembibitan jamur. Bila anda melakukan pencarian di Google dengan kata kunci Bibit …Jamur, situs-situs produsen bibit jamur muncul dengan beberapa istilah yang sebenarnya adalah menggambarkan urutan keturunan bibit.

Setahu saya penggunaan istilah ini masih belum baku sehingga tidak sedikit petani jamur konsumsi atau berkhasiat obat yang “tertipu” karena bibit tidak sesuai dengan maksudnya. Sebagai contoh bibit master, bibit induk, bibit kultur. ketiga istilah itu digunakan untuk bibit unggul yang seperti apa, apakah jamur segar yang digunakan sebagai bahan kultur jaringan, atau hasil dari kultur jaringan bermedia PDA atau hasil dari keturunan PDA…
Belum lagi penggunaan istilah Fillum. Istilah ini menurut yang saya tahu berarti keturunan ke sekian. Dengan demikian ada yang menganggap bahwa keturunan dimulai dengan F1 dan induknya adalah jamur segar, berarti F1 adalah bibit kultur bermedia PDA. F2 hasil dari subkultur bibit bermedia PDA.
Bila ingin mempertahankan pendapat masing-masing produsen, jelas tidak akan menyelesaikan masalah, masing-masing akan beranggapan istilah miliknyalah yang benar, terkecuali ada standar penentuan baku oleh suatu perkumpulan petani jamur atau dari dinas pertanian sekalian. sedangkan saat ini yang saya ketahui standar itu belum ada.
Daripada saya ikut-ikutan menjejali istilah-istilah tersebut kepada anda, ada baiknya saya memberikan pengetahuan proses subkultur pembibitan yang P. D. Cahya Mandiri Maushroom lakukan saja. Istilah ini kami gunakan untuk mempermudah identifikasi bibit saja dan tidak bermaksud mengharuskan anda mengunakan istilah ini.
Pembibitan kami dimulai dari pengambilan “Bahan Induk” yaitu tubuh buah dari lapang atau tempat budidaya yang akan dibuat kultur jaringan. contohnya tubuh buah jamur tiram pada panen pertama yang bentuknya besar dan kokoh.
Bahan tersebut kemudian dikulturkan atau ditanam pada media PDA. Bibit yang dihasilkan pada proses ini biasa kami sebut “Bibit F0″ atau “Bibit Kultur”. Bibit ini rata-rata memiliki waktu inkubasi selama 7 – 10 hari.
Bibit F0 tersebut disubkultur kembali ke media full biji-bijian entah itu jagung atau shorgum atau millet. Bibit jenis ini biasa kami sebut “Bibit F1″ atau “Bibit Master”. Lamanya waktu inkubasi berkisar 3 – 4 minggu. Bibit ini yang biasanya diburu oleh produsen bibit yang belum bisa membuat bibit kultur.
Tingkatan selanjutnya yaitu “Bibit F2″ atau “Bibit Produksi” hasil subkultur dari bibit master. Nah, bibit ini yang sering saya jual ke petani jamur yang telah mandiri membuat baglog produksi, mungkin anda juga pernah memiliki bibit ini dari kami…
Kalau bibit tersebut di subkultur lagi akan jadi “F3″ tanpa embel-embel “bibit” hehehe… Keturunan yang satu ini sudah saya anggap sebagai bahan produksi jamur segar alias media tanam baglog dan tidak layak disebut bibit.
Sekarang Anda coba bayangkan penampilan bibit jamur yang beredar di pasaran, tapi bila saat ini di depan anda ada bibit jamur silahkan amati dan jawab pertanyaan ini:
ANDA BISA MEMBEDAKAN BIBIT F2 dan F3 atau F4 bila kemasan ketiganya sama-sama botol?? Anda tidak perlu menjawab karena solusinya hanya dengan membeli bibit dari sumber yang jelas dan dapat dipercaya.

 

Budidaya Jamur Tiram, Per Bulan Bisa Raup Rp 1,5 Juta

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh pendapatan uang dari hasil tanaman atau budidaya, jika mampu mengelolanya.
Seperti yang dilakukan Suwarno (50), warga Jalan Pancasila, Gang Pancasila, Lubuk Pakam ini. Ia membudidayakan jamur tiram untuk meraup keuntungan. Saban hari ia rutin memperhatikan termometer yang dipasang di dalam ruang khusus pembuatan rumah budidaya jamur miliknya yang berada di belakang rumahnya.
Kegiatan pemeriksaan alat ukur suhu itu, kerap dilakukanya saat kondisi cuaca cerah. Dengan memeriksa termometer, Suwarno yang mulai tertarik membudidayakan jenis Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) setahun silam itu, harus mengkontrol kondisi suhu di sana.
Dibutuhkan suhu mencapai 10-20 selsius. Kondisi itu tetap dipertahankannya. Bila suhu di atas ambang tersebut, Suwarno melakukan penyemprotan terhadap seluruh isi ruangan dengan mengunakan air.
Dengan mempertahkan kondisi suhu di sana, serta dapat mengatur kelembapan 85-90 persen serta cahaya mencukupi, tanaman jamur mulai tumbuh subur. Pertumbuhan jamur tiram mulai terbentuknya tubuh buah diiringi terjadinya kariogami dan meiosis pada basidium. Sedangkan basidium terletak pada bilah atau sekat pada tudung jamur dewasa yang jumlahnya banyak.
Dalam membudidayakan jamur tiram. Suwarno dibantu istrinya Ika Indrani (45). Untuk media budidaya yang dilakukanya adalah media tanam polybag yang disusun di rak-rak. Cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp  500 ribu untuk mendirikan bangunan rumah budidaya.
Bahkan bahanya yang dipakainya cukup sederhana. Batangan bambu dikombinasi dengan tepas dan beratapkan daun nipa. Suwarno dapat mendirikan bangunan rumah budidaya dengan ukuran 5 meter x 10 meter. Di sana dibuat empat unit rak bertingkat berbahan bambu.
Untuk rumah budidaya yang telah mengisi rak-rak bertingkat. Suwarno cukup mengisinya dengan media tanam polybag yang telah diisi benih jamur tiram. Per media tanam polybag dibelinya Rp 3.500 yang diperolehnya dari petani, yang khusus menjualnya. “Media tanam polybag, sudah ada yang menjualnya. Kita tinggal membeli serta membudidayakan tanaman jamur tiram,” bilangnya.
Biasanya media tanam
1.      ploybag berisi
2.      serbuk gergaji kayu yang terlebih dahulu dilakukan
3.      sterilnisasi (dikukus hingga suhu tertentu).
4.      Kemudian dimasukkan ke dalam plastik,
5.      kemudian diberikan benih jamur tiram.
Setelah seminggu, jamur biasanya akan terbentuk tubuh rumpun jamur dan sudah ada yang siap dipanen. Umur jamur dari “singit” atau bakal jamur sampai panen sekitar 3 hari. Ciri serta umur panen jamur tiram, adalah rasanya enak dan memiliki aroma yang baik jika dipanen.
Pendapatan Suwarno akan bertambah sekitar Rp1,5 juta per bulan. Pasalnya sekali panen dihasilkan jamur tiram sekitar 6 kilogram (kg) per tiga hari, dengan harga sekitarnya Rp25 ribu per kilogram. Meski harga jamur tiram mengiurkan, Suwarno belum berani menjual jamur tiram produksinya ke pasaran, karena terbentur dengan stok.
Sampai saat ini, jamur tiram produksinya hanya mampu menutupi pasar untuk wilayah lingkungan tempat tinggalnya. Itupun tidak mampu terpenuhi semuanya.
“Peminat jamur ini banyak. Hasil penjualan jamur tiram lumayan untuk menambah pendapatan keluarga,” paparnya.
Padahal permintaan jamur tiram untuk wilayah Lubuk Pakam cukup tinggi. Namun stok jamur tiram terbatas. Keterbatasan stok itu karenakan belum membudayanya usaha penangkaran jamur yang berwarna putih menyerupai tiram itu pada warga. (btr)
Siapkan Sarana produksi
Budidaya jamur tiram memiliki beberapa keunggulan dan kemudahan dalam proses budidayanya sehingga dapat dikelola sebagai usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil, menengah dan besar (Industri).
Hal lain yang penting adalah menjaga lingkungan pertumbuhan jamur tiram terbebas dari mikroba atau tumbuhan pengganggu lainnya.
Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk melakukan budidaya jamur tiram ini, tahapan pemeliharaan atau penanaman jamur tiram meliputi persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya jamur tiram. Tahapan ini merupakan proses budidaya jamur tiram dari mulai pembuatan media sampai proses pemanenan jamur tiram.
Ruangan Budidaya Jamur Tiram
Pada dasarnya bangunan bisa memanfaatkan ruangan yang ada dalam rumah, biasanya bangunan untuk budidaya Jamur Tiram bangunan jamur terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya:
1.   Ruang persiapan
Ruang persiapan adalah ruangan yang berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan Sterilisasi.
2.   Ruang Inokulasi
Ruang Inokulasi adalah ruangan yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya mikroba lain).
3.   Ruang Inkubasi
Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan diatur pada suhu 22 – 28 derajat dengan kelembaban 60% – 80%. Ruangan ini dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic (baglog) yang sudah di inokulasi.
4.   Ruang Penanaman
Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu udara pada kondisi optimal 16 – 22 derajat C dengan kelembaban 80 – 90%.

Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur di antaranya,
1.      Mixer,
2.      cangkul,
3.      sekop,
4.      filler
5.      botol,
6.      boiler,
7.      gerobak dorong,
8.      sendok bibit,
9.      centong.
10.  Pengukur Suhu Ruangan
Jika ingin berhasil memang harus lengkap menyiapkan sarana produksinya. (net/jpnn).

 

Pembibitan Media Kultur Jamur Budidaya

Memulai bisnis budidaya jamur sama seperti usaha budidaya pertanian lainnya, dimulai dengan pembibitan. Anda mungkin bertanya-tanya seperti apa bentuk dari bibit jamur, apakah berupa biji atau dalam bentuk jamur tetapi berukuran kecil…

Akan saya ceritakan sedikit, pembibitan jamur budidaya seperti jamur tiram, jamur kuping dan jamur jenis lain dimulai dari pembuatan bibit kultur. Bibit ini dibuat dalam konsisi aseptik atau steril yang bebas dari kontaminasi alias tidak terdapat bakteri atau cendawan jenis lain yang tumbuh.
Jamur yang ingin dijadikan bibit diambil dari lapang atau alam kemudian bagian tubuhnya seperti batang, tudung atau lamelanya yang mengandung spora diambil sedikit dan diletakkan ke dalam media tumbuh. proses ini disebut isolasi.
Pada media ini bagian jamur tersebut akan beregenerasi atau berkembang sel-selnya membentuk hifa-hifa / benang-benang halus. Hifa akan menebal sehingga membentuk misellium berwarna putih. Tidak semua misellium jamur berwarna putih, tetapi pada umumnya misellium jamur budidaya berwarna putih.
Media tanam yang umum digunakan dalam isolasi jamur yaitu media PDA (Potato Dextrose Agar). Bentuk media ini seperti agar-agar makanan karena memang komposisinya terdiri dari agar. Selain media PDA proses isolasi biasa dipakai juga media MEA (Malt Extract Agar).
Tidak melulu media tersebut yang digunakan, anda bisa menggantinya dengan media kreasi anda sendiri karena inti dari media yaitu untuk menumbuhkan eksplan (bahan tanam). Seperti contohnya media PSA (Potato Sucrose Agar). Media PDA lebih banyak digunakan di skala laboratorium saint sedangkan media PSA digunakan secara teknis oleh para petani jamur budidaya.
Media PDA memiliki unsur dan kandungan haranya murni, banyaknya tepat dan steril. sedangkan media PSA tergantung dari cara membuat dan jenis kentang yang digunakan, sebab jenis kentang yang berbeda memiliki kandungan unsur yang berbeda pula. selain itu dipengaruhi oleh tempat kentang itu tumbuh dan cara budidayanya.
Perbedaan yang mencolok dari PDA dan PSA yaitu penggunaan gula. PDA menggunakan gula dextrose berantai tunggal (monosakarida) sedangkan PSA menggunakan gula sucrose (gula pasir) berantai ganda (disakarida).
Secara umum, media kultur jamur budidaya harus memiliki sifat:
  1. Mengandung zat hara yang mudah digunakan oleh jamur budidaya.
  2. Mempunyai tekanan osmosis dan tegangan permukaan
  3. pH sesuai dengan keinginan jamur / cendawan.
  4. Tidak mengandung zat-zat penghambat pertumbuhan
  5. Harus dalam keadaan steril sebelum digunakan
Berdasarkan syarat-syarat di atas, anda dapat berkreasi membuat media tanam untuk isolasi jamur budidaya. Penggunaan kentang dapat anda ganti dengan tomat, jagung, ubi kayu atau air kelapa. Sedangkan gulanya anda gunakan saja yang mudah didapat di pasaran dan harganya murah yaitu gula pasir.
Penggunaan gula perlu diperhatikan. penggunaan gula pasir yang berlebihan dapat membatasi / menghambat pertumbuhan jamur tiram. Sebagai contoh penggunaan gula pasir dalam jumlah banyak (sekitar 80%) digunakan dalam pengawetan makanan (manisan, sirup, dodol dan wajik) agar cendawan pembusuk tidak dapat tumbuh.
Setelah pembibitan di media kultur berhasil, kultur jamur budidaya tersebut kemudian disubkultur (pindah tanam) ke media baru berupa biji-bijian. Bibit ini sebagai biang atau master dari bibit selanjutnya yang akan digunakan sebagai bibit produksi. Menjawab pertanyaan di atas, bibit jamur bentuknya mirip seperti tempe, dikemas dalam kemasan botol atau plastik.
Akhir kata, bebaslah berkreasi dalam usaha jamur budidaya yang anda jalankan, tetapi anda tetap perlu perhitungan matang untuk percobaan, alokasi dana, dan resiko kegagalan. Selamat berkreasi membuat bibit unggul khas anda sendiri.

Istilah-istilah dalam Budidaya Jamur

Berikut ini daftar istilah-istilah yang biasa digunakan dalam budidaya jamur konsumsi dan berkhasiat obat atau pada ilmu mikologi secara luas. Istilah-istilah jamur ini diartikan sesuai literatur dan dibahasakan ulang oleh penulis agar mudah dimengerti.

Silahkan anda gunakan menu “find” pada browser untuk…….memudahkan anda mencari istilah-istilah yang ingin anda ketahui arti atau maknanya:
BASIDIOCARP adalah:
Kantung-kantung yang menempel pada lamela sebagai tempat tersimpannya basidiospora dari fillum Basidiomicota. Jamur tiram, kuping, merang, shiitake termasuk kedalam fillum ini.
EKSPLAN adalah:
Bahan tanam yang ditanam dalam media tanam. Contohnya bagian dari tubuh buah jamur ditanam dalam media PDA
MIKOLOGI adalah:
Cabang dari ilmu mikrobiologi yang mempelajari tentang seluk beluk cendawan atau jamur, baik cendawan tingkat rendah atau tingkat tinggi.
SPORA adalah:
Sel kelamin yang dihasilkan secara generatif atau seksual oleh cendawan atau jamur untuk berkembang biak. Secara teknis fungsi spora sama dengan biji pada tanaman yaitu memudahkan untuk persebaran yang mempertahankan keturunan. Apabila spora jatuh pada tempat yang cocok untuk tumbuh maka ia akan berkecambah membentuk hifa.
HIFA adalah:
Benang-benang halus bagian dari cendawan atau jamur yang termasuk dalam tubuh vegetatif. Hifa adalah istilah untuk benang yang tunggal, apabila jumlahnya banyak dan tersusun rapat disebut misellium.
MISELLIUM adalah:
Kumpulan dari hifa-hifa yang membentuk masa rapat atau membentuk koloni (berkumpul). Contoh misellium yaitu seperti pada tempe.
PRIMORDIA adalah:
Awal perkembangan dari tubuh buah jamur basidiomicetes. Istilah yang biasa dipakai dalam jamur budidaya di indonesia yaitu pinhead. Primordia ini akan berkembang membentuk tubuh buah yang berukuran sempurna seiring berkembangnya waktu.
TUBUH BUAH adalah:
Struktur padat bagian dari jamur yang biasanya terdiri dari batang, tudung dan bagian reproduksi. Tubuh buah ini dalam jamur budidaya yang akan dipanen dan diolah menjadi bahan makanan untuk dikonsumsi oleh manusia atau diolah sebagai bahan obat.
LAMELA adalah:
Bagian dari tubuh buah yang letaknya di bawah tudung dan berbentuk seperti lembaran-lembaran. Pada lamela biasanya tersimpan kumpulan spora untuk reproduksi.
SAPROFIT adalah:
Istilah untuk kelompok makhluk hidup yang memanfaatkan bahan sederhana di lingkungan tumbuhnya untuk pertumbuhan dan perkembangan tanpa melakukan penyederhanaan zat lagi. Kelompok ini tidak merugikan organisme lain yang ditumpanginya sebagai inang. mereka membutuhkan inang hanya untuk “berpegangan”.
INANG adalah:
Organisme yang digunakan sebagai tempat hidup oleh organisme lain hidup. Contoh anggrek menempel pada pohon pinus, pinus sebagai inang. Contoh lain tumbuhan benalu pada pohon teh.
INOKULASI adalah:
Penanaman bahan atau bibit organisme pada media pertumbuhan berupa media buatan atau inang. Istilah lain dari inokulasi yaitu penularan karena pada perkembangannya seperti menular. Inokulasi dalam pembudidayaan jamur konsumsi dan berkhasiat obat dilakukan secara aseptik.
INKUBASI adalah:
Istilah untuk penyebaran, penularan, infeksi atau pembiakan misellium jamur setelah inokulasi. Pada masa ini misellium akan bertambah banyak dan rapat pada media tumbuh.
ASEPTIK adalah:
Kondisi lingkungan yang bebas dari organisme yang tidak diharapkan yang kehadirannya dapat mengganggu atau memperburuk pertumbuhan organisme inti yang ingin dibiakkan atau dipelihara. Aseptik dapat disamakan dengan istilah steril. Penanaman secara aseptik adalah penanaman secara steril tanpa ada organism lain.
SEPTIK adalah:
Kondisi lingkungan yang mengandung banyak organisme kompleks dan keberadaannya dapat mencemari / mengkontaminasi organisme inti yang dipelihara. Istilah septik ini juga digunakan pada penampungan kotoran (septic tank) karena memang sangat kotor dan mengandung banyak penyakit.
KONTAMINASI adalah:
Kondisi lingkungan dimana organisme lain yang tidak diharapkan tumbuh dan mencemari pertumbuhan organisme inti. Kontaminasi terjadi karena proses sterilisasi yang kurang baik atau cara inokulasi yang tidak aseptik, selain itu lingkungan yang kotor juga dapat menyebabkan kontaminasi.
KONTAMINAN adalah:
Organisme kontaminasi / penyebab kontaminasi. Contohnya Trichoderma pada kultur Pleurotus.
ISOLASI adalah:
Pemisahan organisme dari organisme lain dengan tujuan tidak saling mencemari. Istilah ini juga dapat mengandung arti pemurnian organisme / dikumpulkan secara spesifik jenis. Biasanya isolasi mengandung arti pula pemindahan dari ekvitro ke invitro (dari alam ke kultur steril). Contohnya pembuatan biakan murni dari jamur tiram yang diambil langsung dari alam.
STERILISASI adalah:
Proses pembebasan medium dari segala organisme dengan cara eliminasi / pemusnahan. Sterilisasi bisa dilakukan secara fisik, kimiawi atau radiasi. Cara yang umum dilakukan dalam sterilisasi yaitu dengan pemanasan seperti direbus,  dikukus atau dengan menggunakan autoklaf bertekanan.
PDA adalah:
Potato Dextrose Agar, yaitu suatu media tumbuh yang biasa digunakan dalam kultur cendawan. Media PDA terdiri dari ekstrak kentang, gula golongan monosakarida dektrose dan agar sebagai pemadat media.
BIBIT F0 adalah:
Istilah yang diberikan untuk biakan murni cendawan pada media kultur aseptik. Ada perbedaan persepsi tentang penggunaan istilah ini, sebagian orang tidak menggunakan istilah ini untuk biakan murni tapi menggunakan istilah F1 karena mereka menganggap biakan murni merupakan biakan dari jamur lapang.
BIBIT F1 adalah:
Istilah untuk bibit hasil dari turunan atau subkultur (penanaman ulang) biakan murni. Bibit ini biasanya menggunakan biji-bijian murni sebagai media tumbuh.
BIBIT F2 adalah:
Istilah untuk bibit hasil dari turunan atau subkultur F1. Bibit ini biasanya tidak lagi menggunakan media biji-bijian murni sebagai media tetapi sudah ditambah media lain seperti serbuk gergaji atau merang padi. Pada kenyataannya ada diantara petani jamur budidaya yang tetap menggunakan biji-bijian murni sebagai medianya.
BAGLOG adalah:
Media tanam jamur yang digunakan sebagai bahan produksi jamur. Pada media ini nantinya akan dikondisikan agar tumbuh jamur. Istilah baglog mengandung arti kantung (bag) media berbentuk kayu gelondongan (log). Ketika plastik media dilubangi atau sobek, dari lubang itulah akan tumbuh jamur.